Wednesday, May 13, 2015

EKONOMI MAKRO

EKONOMI MAKRO
A.    Latar Belakang
Salah satu titik awal kelahiran ekonomi makro adalah adanya permasalahan ekonomi jangka pendek yang tidak dapat diatas oleh teori ekonomi klasik. Masalah ekonomi jangka pendek tersebut yaitu inflasi, pengangguran, dan neraca pembayaran. Munculnya ekonomi makro dimulai saat amerika serikat pada tahun 1929. Depresi merupakan salah satu malapetaka yang terjadi dalam ekonomi dimana kegiatan produksi menurun akibat adanya inflasi yang tinggi dimana pada saat bersamaan terjadi pengangguran yang tinggi pula.
Sebagaimana diketahui bahwa Negara Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi yang berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Tingginya tingkat krisis yang dialami negri kita ini diindifikasikan dengan laju inflasi yang cukup tinggi. Sebagaimana dampak atas inflasi, terjadi penurunan tabungan, berkurangnya investasi, semakin banyak modal yang dilarikan keluar negeri, serta terhambatnya pertumbuhan ekonomi. Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan untuk terus berlanjut dan memaksa pemerintah untuk menentukan suatu kebijakan untuk mengatasinya.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian yang dikemukakan diatas, permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini adalah, sebagai berikut :
· Apa itu inflasi ?, penggolongannya.
·         Dampak inflasi
·         Inflasi di Indonesia, perkembangan dan sumber inflasi.
·         Peranan Bank Sentral dan Pemerintah dalam mengatasi masalah inflasi.
C.     TUJUAN
Dari rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
·         Mengetahui tentang apa itu inflasi, dan jenisnya.
·         Mengetahui dampak dari inflasi
·         Mengetahui kondisi inflasi indonesia, perkembangan dan sumbernya.
·         Mengetahui tindakan bank sentral dan pemerintah untuk mengatasi inflasi.

D.    MANFAAT
Penulisan makalah ini diharapkan mampu memberikan manfaat antara lain :
·         Manfaat praktis hasil dari makalah ini diharapkan dapat menguak dan menambah pengetahuan serta informasi mengenai inflasi serta kebijakan bank sentral untuk mengatasinya.
·         Manfaat teoristis bagi mahasiswa, makalah ini diharapkan dapat memperkaya wawasan.
BAB II
ISI
A.    PENGERTIAN INFLASI
              Inflasi (inflation) adalah gejala yang menunjukan kenaikan tingkat harga umum yang berlangsung terus menerus. Dari pengertian tersebut maka apabila terjadi kenaikan harga hanya bersifat sementara, makan kenaikan harga yang sementara sifatnya tersebut tidak bisa dikatakan inflasi.  Semua negara didunia ini selalu menghadapi permasalahan inflasi ini.
              Oleh karena itu, tingkat inflasi yang terjadi dalam suatu negara merupakan salah satu ukuran untuk mengukur baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi suatu negara. Bagi negara yang perekonomiannya baik, tingkat inflasi yang terjadi berkisar antara 2 sampai 4 persen pertahun. Tingkat inflasi yang berkisar antara 2 sampai 4 persen dikatakan tingkat inflasi yang rendah. Selanjut tingkat inflasi yang berkisar antara 7 sampai 10 persen dikatakan inflasi yang tinggi. Dan inflasi yang berada diurutan paling atas yaitu hiper inflasi (hyper inflation) dimana tingkat inflasi sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi dan serius, masalah hiper inflasi ini pernah dialami indonesia pada tahun 1966 dimana tingkat inflasinya menpai 650 persen.
B.     PENGGOLONGAN INFLASI
              Didasarkan pada faktor-faktor penyebab inflasi maka ada 3 jenis inflasi yaitu :
Inflasi tarikan permintaan (demand-pull inflation) atau inflasi dari sisi permintaan (demand side inflation) adalah inflasi yang disebabkan karena adanya kenaikan permintaan agregat yang sangat besar dibandingkan dengan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Karena jumlah barang yang diminta lebih besar dari pada barang yang ditawarkan maka terjadi kenaikan harga. Berdasarkan Teori Keynes (1936), “Yang paling menentukan kestabilan kehidupan ekonomi nasional ialah permintaan masyarakat. Bila jumlah barang dan jasa yang diproduksi tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar, harga-harga menjadi naik dan timbul inflasi.” (p. 47). Inflasi tarikan permintaan biasanya berlaku pada saat perekonomian mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi berjalan dengan pesat (full employement and full capacity). Dengan tingkat pertumbuhan yang pesat atau tinggi mendorong peningkatan permintaan sedangkan barang yang ditawarkan tetap karena kapasitas produksi sudah maksimal sehingga mendorong kenaikan harga yang terus menerus.
            Inflasi desakan biaya (cost-push inflation) atau inflasi dari sisi penawaran (supply side inflation) adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat dari adanya kenaikan biaya produksi yang pesat dibandingkan dengan tingkat produktivitas dan efisiensi, sehingga perusahan mengurangi supply barang dan jasa. Peningkatan biaya produksi akan mendorong perusahaan menaikan harga barang dan jasa, meskipun mereka harus menerima resiko akan menghadapi penurunan permintaan terhadap barang dan jasa yang mereka produksi.
            Sedangkan inflasi karena pengaruh impor adalah inflasi yang terjadi karena naiknya harga barang dinegara-negara asal barang itu, sehingga terjadinya kenaikan harga umum didalan negeri.
C.     DAMPAK INFLASI
            Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah atau tidak inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional, dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian terasa lesu. Orang menjadi tidak besemangat bekerja, menabung ata mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
            Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiun pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun ditahun 2008 atau 18 tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiuannya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja diperusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi. Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi diatas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
            Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
            Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan prooduksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
            Secara umum inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi pada suatu negara, mendorong kenaikan tingkat suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarkat. Banyak fenomena lain yang akan mungkin muncul dari dampak inflasi, terutama bagi “Negara berkembang seperti Indonesia” yang sangat rentang oleh gejolak lingkaran ekonomi dunia, baik dari luar atau dari dalam negeri.

D.    1 PERKEMBANGAN INFLASI : DI INDONESIA.
            Seperti halnya yang terjadi pada negara-negara berkembang pada umumnya, fenomena inflasi di Indonesia masih menjadi satu dari berbagai “penyakit ekonomi makro” yang meresahkan pemerintah terlebih bagi masyarakat. Memang, menjelang akhir pemerintahan orde baru (sebelum krisis moneter) angka inflasi tahunan dapat ditekan sampai pada single digit, tetapi secara umum masih mengandung kerawanan jika dilihat dari seberapa besar prosentase kelompok masyarakat golongan miskin yang menderita akibat inflasi. Lebih-lebih setelah semakin berlanjutnya krisis moneter yang kemudian diikuti oleh krisis ekonomi, yang menjadi salah satu penyebab jatuhnya pemerintahan Orde Baru,angka inflasi cenderung meningkat pesat.
2 SUMBER INFLASI DI INDONESIA.
            Apabila ditelaah lebih lanjut, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab timbulnya inflasi di Indonesia, yaitu :
Jumlah uang beredar, menurut sudut pandang kaum moneteris jumlah uang beredar adalah faktor utama yang dituding sebagai penyebab timbulnya inflasi disetiap negara, tidak terkecuali di Indonesia. Berdasarkan Teori Klasik (1975), “Tingkat harga terutama ditentukan oleh jumlah uang yang beredar. Bila jumlah uang bertambah, harga-harga akan naik dan nilai uang menurun karena daya beli menjadi rendah.” (p. 51). Di Indonesia jumlah uang beredar ini lebih banyak diterjemahkan dalam konsep narrow money (M1). Hal ini terjadi masih adanya anggapan bahwa, uang kuasi hanya merupakan bagian dari likuiditas perbankan.
            Defisit anggaran belanja Pemerintah, seperti halnya yang umum terjadi pada negara berkembang, anggaran belanja negara Indonesia pun sebenarnya mengalami defisit, meskipun indonesia menganut prinsip anggaran berimbang. Defisitnya anggaran belanjan ini banyak kali disebabkan oleh hal-hal yang menyangkut ketegaran struktural ekonomi indonesia, yang acapkali menimbulkan kesenjangan antar kemauan dan kemampuan untuk membangun.
            Jika dilihat dari sisi harga barang, Indonesia pun masih belum aman dari potensi tekanan inflasi. Ada beberapa resiko gejolak ekonomi, yang mungkin menyebabkan tekanan  terhadap laju inflasi tahun 2008.
1. Proses konsolidasi pasar financial global terkait dampak krisis subprime mortgage masih belum dapat dipastikan mereda.
2.  Resiko terkait kenaikan harga minyak dunia.
3.  Potensi peningkatan permintaan konsumsi minyak domestik di atas asumsi, terutama yang dipicu tingginya disparitas harga BBM bersubsidi dengan harga BBM nonsubsidi maupun harga BBM di negara tetangga.
4. Kemampuan produksi minyak domestik yang tidak sesuai target.Kelima, persepsi pelaku ekonomi terhadap prospek kesinambungan fiskal dan proses perekonomian secara keseluruhan terkait dampak kenaikan harga minyak dunia.
5.  Resiko itu merupakan ancaman yang bisa membebani pencapaian target inflasi pada tahun 2008 yang ditetapkan 5 percen dengan deviasi 1 persen.

E.KEBIJAKAN BI DAN PEMERINTAH MENGATASI INFLASI.
            Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa, kebijakannya tidak boleh di intervensi oleh pihak di luar bank sentral termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukan bahwa bank sentral yang kurang independen salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian yang akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
            Dalam rangka mengendalikan inflasi dan menjaga stabilnya nilai mata uang, Pemerintah dan otoritas moneter yang ada mengambil beberapa kebijakan baik dari segi moneter, fiskal, maupun sektor riil. Dari segi moneter maka bank sentral akan menaikkan suku bunga dan pengetatan likuiditas perbank-kan, mengkaji efektivitas instrumen moneter dan jalur transmisi kebijakan moneter, menentukan sasaran akhir kebjakan moneter, mengidentifikasi variabel yang menyebabkan tekanan-tekanan inflasi, memformulasikan respon kebijakan moneter
            Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang yang beredar dan tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral diseluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.
            Kebijakan target inflasi merupakan salah satu bentuk kebijakan moneter yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia dalam upaya pemulihan kondisi ekonomi nasional. Dalam hal ini Bank Indonesia selaku bank sentral menetapkan target laju inflasi untuk periode jangka waktu tertentu. Dengan demikian, kebijakan target inflasi lebih berorientasi ke depan (forward looking) dibanding kebijakan-kebijakan moneter sebelumnya (yang oleh BI disebut juga kebijakan konvensional). Tidak seperti halnya kebijakan moneter konvensional yang senantiasa menggunakan target antara besaran moneter, dalam target inflasi dipergunakan proyeksi inflasi. Kalaupun harus menggunakan target antara, biasanya akan digunakan tingkat bunga jangka pendek.
Adapun langkah kebijakan lain yang dilakukan yaitu, berupa solusi pencegah laju inflasi, yang didasarkan atas 5 poin :
1.      Kemampuan dalam menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan (output gap).
2.      Menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
3.      Menjaga agar ekspektasi berada pada level yang rendah.
4.      Meminimalisasikan dampak administered price.
5.      Menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi volatile food.
            Obat ini hanya diterapkan jika Pemerintah dah Bank Indonesia benar-benar satu kata dan bekerja sama menekan laju inflasi. Inflasi harus menjadi perhatian utama karena merupakan potret yang terjadi di tengah masyarakat. Semakin tinggi laju inflasi, maka semakin rendah kesejahteraan masyarakat, karena nilai setiap sen uang yang dipegang orang  terus menurun dan daya beli akan merosot.


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
            Inflasi (inflation) adalah gejala menunjukan kenaikan tingkat harga umum yang berlangusng terus menerus.
            Indonesia sebagai negara-negara berkembang struktur ekonomi pada umumnya yang masih bercorak agraris. Sehingga, goncangan ekonomi yang bersumber dari dalam negeri, misalnya gagal panen, atau hal-hal yang memiliki kaitan dengan hubungan luar negeri, misalnya memburuknya term of trade, utang luar negeri, dan kurs valuta asing, dapat menimbulkan fluktuasi harga di pasar domestik.
            Bank sentral umumnya mengendalikan jumlah uang beredar dan tingkat suku bungan sebagai instrumen dalam mengendalikan harga.
            Kondisi perekonomian Indonesia yang terpuruk akibat krisis memerlukan upaya pemulihan dengan menggunakan kebijakan moneter. Kebijakan yang diterapkan berupa inflation targeting yang telah berhasil mengentaskan problem inflasi dibeberapa negara di dunia.
B.     SARAN
            Bank sentral dalam menerapkan kebihakan target inflasi, agar berkompeten dan dapat menanggulangi dan menetapkan persentase tingkat inflasi yang menguntungkan bagi pembangunan perekonomian negara.
            Pemerintah dan bank indonesia benar-benar satu kata dan bekerja sama menekan laju inflasi. Inflasi harus menjadi perhatian utama karena merupakan potret disuatu negara. Semakin tinggi inflasi suatu negara makin rendah kesejahteraan masyarakat suatu negara.
SOURCES : http:/Google.com, www.sipoel.unimed.in/file.com
                     http:/Google.com, www.Kompas.com.
                     http:/Google.com, www.puslit.petra.ac.id
         http:/Google.com, www.wikipedia.com. “Wikipedia bahasa indonesia,  ensiklopedia bebas” 
Peranan Bank Indonesia Dalam Pengendalian Inflasi, 24 Mei 2007, http://www.bi.go.id
 Ibid.,


No comments:

Post a Comment