Organisasi menghabiskan jutaan bahkan miliaran
setiap tahunnya untuk program pelatihan dan pengembangan formal (dolehzalek,
2005) dengan harapan investasi pelatihan mereka akan membawa pada perubahan
kinerja perusahaan atau criteria hasil (salas dan canon bower,2001). Kriteria
telah menunjukkan sebagai “ultimate” kriteria untuk evaluasi pelatihan (brogden
dan taylor,1950), fundamental untuk menilai kesuksesan pelatihan
(aliger,tannenbaum,bennet,traver dan shotland,1997) dan keutamaan pelatihan. Disini juga ketika ingin mencapai sebuah
kesuksesan dalam sebuah karir kita disini sebagai manajer harus bisa membuat
tercapainya yang namanya Person-Environment (PE) fit. Yang mana
Person-Environment fit itu merupakan sebuah keserasian atau kecocokan antara
individu atau pekerja dengan lingkungn tempat individu tersebut bekerja.
Kemudian disini keharusan mencapai Person-Environtment fit didalam sebuah
organisasi atau perusahaan itu penting karena hal tersebuta akan sangat
berpengaruh kepada kepuasaan bekerja kemudian kinerja pekerja, komitment para
pkerja kepada organisasi kemudian berubungan hasil dari karir. Kemudian disini
PE fit juga membantu untuk menentukan seberapa baik karir pekerja dengan
organisasinya. Sesungguhnya PE fit juga menyediakan tingkat yang signifikan
dalam interaksi dari individu and variable situasi untuk menjelaskan kesuksesan
karir individu dalam bekerja. Untuk mencapai yang namanya PE fit tersebut dalam
sebuah organisasi maka kita disini perlu yang namanya membahas yang namanya
pendekatan kesuksesan karir kemudian Human capital Percieved Organizational
support (POS). Kemudian nati disini juga akan membahasa mengenai Training
Transfer dalam sebuah Organisasi.
A. Approach to Career Success
Dari sekian banyak persaingan pendekatan yang telah
diidentifikasi untuk menjelaskan
prediksi sebuah kesuksesan. Disini terdapat 3 pendekatan yang sangat terkenal
untuk mencapai sebuah karir yang sukses. Ketiga pendekatan tersebut adalah
pendekatan Individu, Pendekatan Struktural, dan pendekatan tingkahlaku. Yang
mana ketiga pendekatan tersebut akan dijelaskan pada penjelasan sebagai berikut
:
1.
Pendekatan Individu
Pada Pendekatan Individu ini pertama
kali ditemukan dan muncul dalam literatur terkenal yaitu Human capital dan teori motivasi. Sehingga dasar-dasar pemahaman
dari konsep pendekatam Individu ini bersumber kepada literatur tersebut.
Kemudian pendekatan individu disini merupakan suatu pendekatan mengenai
bagaimana memahami individu untuk sukses dalam mencapai suatu karir. Disini
setiap individual yang menginvestasikan atribut human capital seperti
pendidikan, training, dan pengalaman diharapkan dapat menunjukan performa kerja
yang lebih tinggi dan lebih memuaskan yang mana nantinya performa yang baik
tersebut akan berdampak kepada penghargaan organisasi kepada para individual
tersebut. Semakin baik dan memuaskan performa dari individual tersebut makan
akan sebaikin besar pula penghargaan yang akan diterima.
Kemudian berdasarkan teori dan
pendekatan ini kesuksesan karir individu kedepannya adalah bagian dari
kuantitas dan kualitas dari sebuah human asset yang mereka miliki. Karena
dengan human asset yang mereka miliki itulah yang akan menentukan apakah mereka
bisa diterima atau tidak didalam pasar tenaga kerja dan juga memnentukan berapa
besar kompensasi yang layak diterima untuk para individu tersebut berdasarkan
human asset yang mereka miliki. Selain bahwa faktor human capital mempengaruhi kinerja karyawan, kontribusi personal
yang lebih besar dapat memungkinkan mereka untuk meningkatkan kinerja mereka
lebih baik, dan apa yang mereka lakukan dapat meningkatkan kesesuaian terhadap
kompensasi untuk meningkatkan jumlah human capital
yang dibutuhkan oleh pekerjaan mereka.
2. Pendekatan
Struktural
Pada Pendekatan Struktural kesuksesan
karir dipengaruhi oleh faktor-faktor ang dimiliki oleh organisasi-organisasi
tertentu, factor-faktor tersebut seperti ukuran organisasinya kemudian kebiasaan
dalam organisasi yang berhubungan dengan hal memajukan organisasi yang
dampaknya akan memepengaruhi tercapainya kesuksesan karir individu tersebut.
Didalam teori manajemen dari perusahaan atau sebuah organisasi sangat mendukung
pada pendekatan structural ini. Hal
tersebut dikarenakan pada pusat tesis manajerialisme dijelaskan bahwa ketik
sebuah perusahaan atau organisasi miliki suatu system hiraiki yang besar dan
didalam hirarki terdapat fungsi atau aturan kompensasi didalam setiap hiraki.
Maka disini setiap individu otomatis akan memiliki mainset dan harapan bahwa
individu akan mencapai sebuah kesuksesan karir
ketika ia mampu mencapai hiraiki tertinggi dengan harapan setelah
mencapai puncak hirarki, individu tersebut akan mendapatkan kompenasi yang semakin
besar pula. Maka Untuk mencapai puncak hiraki tersebut otomatis setiap individu
akan berusaha semaksimal mungkin dengan meningkatkan kinerja mereka dan
meningkatkan human asset dari yang mereka miliki.
Apabila individu tidak meningkatkan
kinerja dan tidak dapat mengembangkan human asset yang mereka miliki otomasih
sulit bagi individu tersebut untuk mencapai puncak hirarki atau struktur dalam
sebuah organisasi atau perusahaan, nah disini otomastis kesuksesan karir tidak
akan dicapai. Sehingga pada pendekatan ini dapat dikatakan bahwa organisasi
atau perusahan memfasilitasi karir dan sukses individu dengan system hiraki
yang ada dan peningkatan bayaran individu
3. Pendekatan
Tingkah Laku
Dalam pendekatan tingkah laku di
asumsikan bahwa setiap individu itu memiliki sebuah kendali tertentu terlebih
pada pilihan karir mereka dan kemajuan dan Oleh
karena itu setiap individu dalam menilai prospek karir mereka yang kemudian
memberlakukan rencana karir yang tepat dan taktik yang berkontribusi terhadap
keberhasilan karir yang ingin mereka capai. Berdasarkan pada asumsi tersebut
pendekatan tingkah laku adalah setiap individu dalam mencapai karirnya
seharusnya mengambil peran proaktif dalam mengelola karir mereka sendiri dan
mengejar strategi karir yang kongruen dalam konteks strategi organisasi
daripada hanya pasif pada sistem karir yang terdapat pada organisasi tersebut. Gould
and Penley menyarankan bahwa pekerja menggunakan intrapersonal dan
interpersonal karir strategi sejak seperti strategi tingkahlaku (pencalonan
diri dan jaringan) dapat membantu mereka
mendapatkan evaluasi kinerja yang baik. Mereka menemukan hubungan antara
strategi ini dan kenaikan gaji manajer. Nabi(2003) menemukan bahwa pencalonan diri dan jarngan menegahi hubungan
antara prospek karir dan hakiki karie sukses.
B. Human Capital Perceived Organizational Support
(POS)
Hubungan antar keberhasilan karir dan pengembangan
teori framework dan mengaetahui
proporsi bagaimana human capital , person organizazition fit, dan
organizational support pada kesuksesan karir.
Karir sukses dan person
environment fit mempunyai perhatian
yang signifikan dan nyata dalam penjabaran dari workplace. Ini terhubung juga pada kesadaran umum yang mengacu
bahwa konsep ini mempunya implikasi yang penting untuk tingkah laku individu
dan hasil kerja dan kedua efek dari implementasi proses psychological contract karyawan. Psychological contract adalah secara umum berarti seperangkat dari
“kepercayaan individual, yang dibentuk oleh organisasi, mengenai ketentuan
perjanjian pertukaran diantara individu
dan organisasi” (Rousseau, 1995, p. 9). Satu aspek yang spesifik dari kontrak
ini diantara pengusaha dan karyawan harus dilakukan dengan derajat dari person environment fit (Rousseau and
Parks,1992).
Person
environment (PE) fit didefinisikan sebagai
kesesuaian yang terhubung ketika indivudu dan karekteristik lingkungan kerja
cocok dengan baik (Kristof-Brown et al.,2005). Penelitian pada person organization fit mengindikasikan
bawha nilai organisasi adalah pemrediksi yang bagus pada pilihan pekerjaan dan
bahwa individu lebih memilih pekerjaan atau kariri di organisasi yang
ditampilkan nilai yang sama pada yang mereka miliki (Schneider, 1987;
Tinsley,2000).
Dalam usaha meningkatkan proses seleksi, organisasi
melihat untuk menarik individu yang nilai luarnya sama dengan yang organisasi
miliki. Individu, pada gilirannya, akan tertarik dan mencari peluang karir pada
organisasi yang percaya dan yakin pada kecocokan mereka dan sadar degan ambisi
karir mereka.
Selanjutnya adalah efek dari organizational support pada
kesuksesa karir individu. Penelitian yang dilakukan ahli berkonstribusi
pada literature kesuksesan karir dengan menyediakan langkah tambahan didepan
menaikan relevansi dari PE fit framework pada
banyak model dari pilihan karir dan tingkah laku.
1. PENDEKATAN
UTUK KARIR SUKSES
Beberapa pendekatan telah
teridentifikasi untuk menjelaskan pemrediksi karir sukses. Tiga pedekatan yang
paling terkenal adalah, INDIVIDU, STRUKTUR, DAN PERSPEKTIF TINGKAH LAKU.
Teori pertama lebih banyak
mengambarkan tentang penemuan variable individual di dalam leteratur terkenal
tentang HUMAN CAPITAL dan teori
motivasi. Pendekatan ini focus kepada individu sebagai seseorang yang membangun
modal manusia mereka sendiri dan juga memaksimalkan pendidikan, dan investasi keahlian utuk meraih sukses di
dalam karir.
Teori kedua mengacu pada teori
manajemen tentang perusahaan dan model lowongan serta ketentuan bahwa
organisasi factor seperti ukuran organisasi dan internal promosi adalah
persyaratan untuk kesuksesan karir individu didalam rganisasi.
Yang ketiga adalah pendekatan yang
mengasumsika bahwa pecapaian karir adalah fungsi dari strategi karir nyata
termasuk prngaruh dari kondisi secara politik.
2. PENDEKATAN
INDIVIDU
Teori
Human capital menyediakan basis
secara teori untuk memahami pendekatan individu kepada kesuksesan karir. Teori human capital (Backer,1975) menyarankan bahwa individu yang
berinvestasi kebanyakan di dalam atribut human capital seperti pendidikan,
pelatihan, dan pengalaman diharapakan menunjukan level yang lebih tinggi di
dalam kinerja bekerja dan kemudian memperoleh penghargaan organisasi yang lebih
tinggi. Berdasarkan pada teori ini kemajuan karir seseorang dan kesuksesan
adalah bergantung kepada banyaknya dan kualitas dari asset seorang manusia yang
dibawa dalam labor market (Backer,
1964) dan kemampuan serta pengalaman pada individu yang dibawa dalam pekerjaan
mereka berhubungan dengan kompensasi mereka (Agarwal, 1981). Lebih luasnya,
factor human capital mempengaruhi kinerja dari karyawan, semakin
bagus atribut personalnya akan memungkinkan mereka menjadi lebih baik dalam
kinerja di pekerjaannya, dan bayaran mereka akan meningkat berdasarkan kepada
imbalan mereka untuk jumlah tambahan dari sumber daya manusia yang dibutuhkan
oleh pekerjaan mereka. Bukti terkini
secara empiris mendukukg tentang keterkaitan positf diantara variable human capital dan kesuksesan karir (Ng et al; tharenou, 2001)
3. PENDEKATAN
STRUCTURAL
Pendekatan structural pada
kesuksesan karir terdiri dari beberapa pertolongan karekteristik structural dan
yang lainnya menyembunyikan individu didalam kemajuan karir mereka. Dibawah
pendekatan ini, factor organisasi seperti ukuran organisasi dan praktek promosi
secara internal mempengaruhi aspirasi kesuksesan karir. Manajemen teori dari perusahaan mendukung pendekatan
structural. Seperti Gattiker and Larwood (1998) menyebutkan, frekuensi dari
promosi adalah pengukuran nilai dari mobilitas karir dan sukses, semenjak ini
penting untuk kenaikan individu pada pemimpin corporate.
4. PENDEKATAN
TINGKAHLAKU
Pedekatan tingkah laku
mengasumsikan bahwa individu mempunyai
control nyata pada pilihan karir mereka dan kemajuan serta bisa menaikan
prospek karir dan memberlakuan sesuai tujuan karir dan taktik yang
berkonstribusi pada kesuksesan karir. Asumsi yang perlu digarisbawahi dari
pendekatan ini adalah para aspirasi karir haruslah proaktif di dalam mengatur
karir mereka serta mengejar strategi karir yang kongkrit dengan kontek strategi
organisasi, daripada bergerak secara pasif pada system karir organisasi.
5. HUMAN
CAPITAL DAN KESUKSESAN KARIR
Pertama, sekarang ini penelitian
karir secara tipikal terhubung dengan demografis dan factor personal pada
kesuksesan karir. Contohnya, factor demografis seperti umur, dan status
kelahiran serta factor personal seperti pendidikan dan pengalaman telah
ditemukan sangatkuat sebagai determinan dari kesuksesan karir( Dalton 1951).
Lebih lanjutnya, bukti penelitian mengindikasikan bahwa variable human capital
mempunyai akibat yang signifikan pada kesuksesan karir karena mereka
menjelaskan tentan besarnya proporsi dari variasi di dalam gajih (Chenevert and
Tremblay,2002) sebaik di dalam jumlah promosi
(Stewart and Gudykunst, 1982). Penelitian juga telah menmukan investasi
individu didalam pendidikan dan pegalaman menjadi yang terkuat dan yang paling
konsisten sebagai predictor dari kemajuan karir (Tharenou et al. 1994).
Krichmayer (1998) menemukan pengalaman kerja dan masa jabatan menjadi secara
kuat terhubung pada objektif dan subjektifkesuksesan karir. Sejalan dengan karir yang menjadi lebih
pasti, karakteritik portable dan personal menjadi lebih critical, mungkin lebih
dari sebelumnya, untuk factor karir yang mempengaruhi perbedaan model dari
karir sukses . sehingga dapat disimpulkan:
Factor human
capital, termasuk didalamya tingkat pendidika, investasi pekerjaan, pengalaman
pekerjaan, dan besaran lamanynya jam bekerja untuk masing-masing secara positif
terhubung dengan kesuksesan karir.
6.
DUKUNGAN ORGANISASI DAN
KESUKSESA N KARIR (ORGANIZATIONAL SUPPORT
AND CAREER SUCSCESS)
Penelitian terdahulu mengira bahwa
factor level organisasi perlu utuk diambil kedalam akun ketika menginvestigasi
kehadiran dan korelasi dari kesuksesan karir. Penelitian terkini menemukan
pendukung dari variable organisasi seperti, pendukung karir, dukugan
supervisor, pelatihan keahlian dan pengembangan
kesempatan, dan sumberdaya organisasi telah terhubung pada kesuksesan
karir.
Perceived
organizational support (POS)and career success
Eisenberger et al (1989)
memperkenalkan konsep dari POS untuk
menerangkan pengembangan komitmen pegawai kepada organisasi. Mereka menyangka
bahwa ‘pengembangan karyawan secara global percaya konsentrasi pada perluasan
nilai organisasi konstribusi mereka dan perhatia tentang menjadi lebih baik
bagi mereka’, dan mereka menambahkan semacam kepercayaan global atau POS akan
membawa kepada kenaikan penghargaan. Itu dia, pegawai berubah menjadi terikat
pada organisasi mereka keuntungan hubungan timbale balik yang mereka terima
diantara konstribusi mereka dan penghargaan yang mereka terima untuk jasa.
POS memiliki arti sebagai tingkat
dimana karyawan merasa bahwa organisasinya akan memberikan kompensasi yang
pantas bagi usaha mereka, membantu ketika mereka membutuhkan, membuat dan menciptakan pekerjaan yang menarik
dan merangsang serta membuat kondisi kerja yang baik.
Menggunakan teori social exchange untuk menjelaskan efek
penerimaan dari komitmen diantara pegawai dan organisasi, dan mereka menunjukan
POS secara signifikan terhubung dengan komitmen organisasi. Efek positif dari
POS pada komitmen karyawan dan kepuasan pekerjaan terlihat logis untuk
memperkirakan bahwa POS terhubung dengan kesuksesan karir secara baik.
Analisis selanjutnya menjelaskan
bahwa constribusi dari POS pada kinerja terhubung dengan harapan, ditemukan
bahwa POS secara positif terhubung dengan kesempatan untuk kesadaran lebih
besar dan gajih dan promosi.
Akan ada hubungan positif antara POS dan kesuksesan
karir. Karyawan yang memiliki nilai POS yang tinggi akan dilaporkan lebih besar
kesuksesan karir dari pada karyawan yang tidak.
POS juga bertindak sebagai
pemediasi pengaruh praktik pengembangan karir ( organizational reward,
kesempatan pengembangann karir, dukungan supervisor dan promosi internal) pada
turn over intention.
C. Training Transfer
Pretraining activities
kegiatan pretraining terdiri dari empat sub-skala yang
kita namakan:
1. Trainee
input and involvement
Hal
ini adalah hal yang penting karena masukan dari trainee seperti metode apa yang
dilakukan untuk training, konten apa yang diperlukan dan mereka bisa memberikan
masukan tentang jenis pelatihan apa yang akan mereka lakukan.
2. Supervisor
support
Supervisor bisa mengambil banyak aksi dalam hal ini.
Contohnya adalah sebelum memasuki program training, supervisor bisa mengadakan
pertemuan dengan trainee untung menentukan program training dan kontennya,
tujuan training, menyiapkan waktu untuk peserta menyiapkan diri dan member
semangat kepada mereka untuk ikut dan berpartisipasi dalam kegiatan training.
3. Training
attendance policy
Hal
ini berkaitan dengan kebijakan perusahaan dalam menentukan bagaimana timbalan
yang tempat untuk para trainee yang hadir atau tidak menghadiri kegiatan
pekatihan.
4. Trainee
preparations
Hal
ini diperlukan untuk para trainee mempersiapkan diri mereka masing masing untuk
menghadapi training. Hal ini akan membantu dalam meningkatkan self-effiacy.
Activities during
training
tujuh item untuk skala
ini mengacu pada prinsip-prinsip
desain dan pembelajaran, seperti kondisi yang sangat mirip yang di lingkungan kerja yang
sebenarnya (identical
elements), berbagai rangsangan
pelatihan dan pengalaman (stimulus variability), aturan umum dan
prinsip-prinsip yang mendasari theorithical isi pelatihan (general principles), umpan balik dan informasi tentang tugas kinerja dan pelatihan (feedback
and knowledge of results), hadiah
untuk belajar dan melakukan
materi pelatihan dan tugas-tugas (positive
reinforcement), tujuan(goal setting),
dan mempersiapkan trainee
untuk mengatasi hambatan atau kesulitan
yang mungkin mencegah mereka dalam menerapkan materi
pelatihan ketika
mereka kembali ke lingkungan
kerja (Relapse
prevention).
Post Training
activities
Ada
empat factor yang dapat menjadi hal penting dalam kegiatan ini, yaitu:
1. Supervisor
support
Dukungan dari
supervisor dapat berupa, menyediakan apa yang menjadi kebutuhan karyawan,
kesempatan untuk menerapkan apa yang telah di latih dip roses pelatihan dalam
praktek kerja sesungguhnya dan pujian atau hadiah karena telah menggunakan
keterampilan yang baru diperoleh dari proses pelatihan
2. Organization
support
Dukungan
organisasi dapat berupa sesi penguatan materi setelah pelatihan, ketersediaan sumber daya yang diperlukan untuk menerapkan
apa yang di dapat di pelatihan di
tempat kerja, dan
penilaian kinerja yang meliputi penggunaan pengetahuan dan
keterampilan baru
yang di dapat saat pelatihan pada pekerjaan
3. Accountability
Hal
ini dapat dilakukan dengan peserta diwajibkan untuk menyerahkan laporan pasca pelatihan dan
berpartisipasi dalam sebuah wawancara atau diskusi tentang pelatihan
4. Evaluation
and feedback
Kegiatan ini
yaitu mengevaluasi pekerjaan pekerja setelah training. Lalu menilai apakah
pekerja menggunakan metode yang ia dapatkan dari pelatihan. Bisa juga dengan
memasangkan satu pekerja dengan lainnya yang bisa memberikan bantuan dan
memberikan feedback.
Ketiga
kegiatan diatas dapat membantu dan memotivasi karyawan untuk mentrasferkan apa
yang ia dapat di pelatihan ke lingkungan pekerjaan yang sebenarnya.
Kesempatan pengembangan karir adalah titik yang
penting untuk kedua pemilik dan karyawan. Pengembangan karir lebih di asumsikan
menjadi fungsi dari manusia, motivasi, dan spesifik organisasi variable yang
membuka pada kesuksesan individual untuk karir mereka. Seperti yang telah
dipaparkan diatas.
No comments:
Post a Comment