Banyak factor yang menentukan apakah sebuah
organisasi akan berhasil, sumber daya manusia hanyalah salah satunya. Kemampuan
bersaing, kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan dalam pasar, dan
banyak masalah lainnya yang terlibat. Manajemen yang efektif menentukan arah
yang harus dituju organisasi, bagaimana cara untuk menuju kesana, dan kemudian
mengadakan evaluasi secara rutin untuk melihat apakah organisasi telah berada
di jalur yang bener. Tujuan strategis, lingkungan eksternal, proses bisnis
internal, dan menentukan bagaimana efektivita akan ditentukan dan diukur adalah
semua masalah dalam proses ini.
SDM terlibat (atau seharusnya
terlibat) dengan semua hal-hal tersebut dengan mengidentifikasi bagaimana
perusahaan dapat membantu dalam meningkatkan produktivitas organisasional,
membantu untuk menangani kompetisi asing secara efektif, atau meningkatkan inovasi dalam organisasi.
Pemikiran seperti ini menunjukan adanya
berpikir secara strategis. Strategis
manajemen sumber daya manusia adalah mengenai pendekatan yang menerangkan
tentang bagaimana tujuan organisasi akan tercapai oleh manusia melalui strategi
sumber daya manusia dan penerapan kebijakan serta pelatihan sumberdaya manusia .
Selain itu juga manajemen sumberdaya manusia adalah mengenai penggunaan
karyawan secara organisasional untuk mendapatkan atau memelihara keunggulan kompetitif
terhadap para pesaing. Strategi SDM umumnya terintegrasi secara
vertikal dengan strategi bisnis dan horizontal dengan satu sama
lain. Strategi SDM dikembangkan oleh pendekatan SDM strategis yang
merupakan komponen penting dari strategi bisnis organisasi.
Beberapa definisi dari strategi SDM adalah sebagai berikut:
·
Strategi SDM berkonsentrasi degan ‘melihat
karyawan dari organisasi sebagai sumber strategi untuk menggapai keunggulan
kompetitif’ (Hedry and Pettigrew, 1986)
·
‘seperangkat proes dan aktifitas bersama-sama
dengan sumber daya manusia dan manajer line untuk memecahkan masalah bisnis
yang bersangkutan’ ( Schuler and Walker, 1990).
·
‘strategi sumber daya manusia focus pada tindakan
yang membedakan perusahaan dengan saingannya’(Purcell,1999)
·
‘alasan utama dari teory management strategi sumber
daya manusia adalah keberhasilan kinerja organisasi tergantung pada garis arah atau
keseimbangan antara bisnis dan strategi sumber daya manusia’ (Batt, 2007).
Dengan demikian, department sumber daya manusia secara formal
berkostribusi dalam usaha perencanaan dan strategi perusahaan atau sebuah
organisasi secara keseluruhan, atau hanya dengan mengetahui masalah yang
dihadapi oleh organisasi.
Dalam strategi sumberdaya manusia ada beberapa poin yang menjadi
landasannya. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sumber daya manusia dari
sebuah organiasi memainkan peran strategis di kesuksesan organisasi tersbut,
dan sebagai sumber mayor atau sumber utama dari keunggulan kompetitif.
2. Strategi sumber daya
manusia haruslah berpadu atau selaras dengan rencana bisnis organisasi
(hubungan vetikal). Seperti yang diungkapkan oleh Allan and White (2007), “
pokok utama dari teori strategi sumber daya manusia adalah bahwa kesuksesan
kinerja organisasi tergantung pada keselarasan antara bisnis dan strategi
sumberdaya manusianya”. Boxall et al (2007) juga percaya bahwa focus utama dari
strategi manajemen sumber daya manusia haruslah menyelaraskan sumber daya
manusia yang ada dengan strategi dari perusahaan terkait.
3. Sumber daya manusia
secara individual haruslah menyatu dengan dihubungkannya satu sama lain kepada
dukungan timbale baliknya (hubungan horizontal).
Strategi manajemen sumber daya manusia bisa dipandang sebagai
pendukung pola pikir dengan konsep yang pasti dibandingkan dengan seperangkat
teknik. Ini menyediakan pondasi untuk meninjau strategi yang menganalisis
konteks organisasi dan tersedianya praktek sumber daya manusia membawa kita
untuk memilih pada rencana strategi untuk pengembangan semua atau secara
spesifik dari strategi manajemen sumber daya manusia dan strategi kebiasaan
khusus sumber daya manusia yang bekerja dengan segenap jajaran kolega
management pada setiap harinya untuk meyakinkan bahwa tujuan bisnis dari
organisasi telah tercapai dan nilainya tertanam dalam praktek.
Selanjutnya akan dibahas tentang perinsip-perinsip dari strategi
manajemen sumber daya manusia. Strategi manajemen sumber daya manusia
menyediakan pandangan di jalur dengan persoalan keritis atau factor kesuksesan yang
berkaitan kepada orang dapat disampaikan, dan keputusan strategi dibuat berdasarkan
mayor dan dampak jangka panjang pada kebiasaan dan keberhasilan dari
organisasi. Ini tidak selalu focus dengan ‘mencerminkan kondisi sekarang atau
praktek terdahulu’ (Smith, 1982). Sebagai arti dari pembangunan kesinanmbungan
sumber daya manusia strategi, strategi manajemen sumber daya manusia
difasilitasi kepada perluasan untuk setiap 7 prinsip berikut yang di susun oleh
Ondrack and Nininger (1984) adalah sebagai berikut ini :
1. Adanya tujuan secara
menyeluruh dan dimensi sumber daya manusia dari tujuan tersebut haruslah jelas.
2. Proses pembangunan
strategi yang ada dalam organisasi dan dimegerti, serta adanya pertimbangan
eksplisit dari dimensi sumber daya manusia.
3. Adanya keterkaitan
efektifitas pada basis berkelanjutan untuk menjamin penggabungan dari
konsiderasi sumberdaya manusia dengan proses pembuatan keputusan organisasi.
4. Kantor dari kepala
eksekutif menyediakan tantangan untuk menggabungkan konsiderasi sumber daya
manusia untuk bertemu dengan kebutuhan
di dalam bisnis.
5. Untuk setiap level dalam
organisasi membangun tanggung jawab dan rasa pertanggung jawaban untuk
manajemen sumber daya manusia.
6. Inisiatif di dalam
manajemen sumber daya manusia haruslah selaras dengan kebutuhan dari bisnis.
7. Ini termasuk pada
tanggung jawab untuk mengidentifikasi dan berinteraksi di dalam ranah social,
politik, teknologi, dan lingkungan ekonomi dimana organisasi berada dan akan
bertransaksi bisnis.
Selanjutnya tujuan dari strategi manajemen sumber daya
manusia secara fundamental adalah untuk membangkitkan strategi kesanggupan
dengan meyakinkan bahwa organisasi
mempunyai kemampuan, pemersatu dan termotivasi secara baik itu
dibutuhkan oleh para pegawai untuk mecapai keunggulan kompetitif secara terus-menerus.
Sesuai dengan sumber yang terlihat sebagai mana telah dijelaskan diatas ,
tujuan strategis akan menjadi ‘ membuat perusahaan tersebut lebih pandai dan
fleksibel dibandingkan dengan pesaingnya’ (Boxall, 1996) melalui menggajih dan
mengembangkan karyawan lebih bebakat dengan memperluas kemampuan dasar mereka. Karena jika kita
mengartikan Strategi adalah perspektif tentang cara di mana masalah penting
atau faktor keberhasilan dapat diatasi, dan keputusan strategis bertujuan untuk
membuat dampak jangka besar dan panjang pada perilaku dan keberhasilan
organisasi.
Strategis SDM berkaitan dengan hubungan antara manajemen sumber
daya manusia dan manajemen strategis dalam perusahaan. Strategis SDM
merujuk ke arah keseluruhan organisasi ingin mengejar dalam rangka mencapai
tujuan melalui orang. Dikatakan bahwa, karena modal intelektual merupakan
sumber utama keunggulan kompetitif, dan dalam analisis terakhir itu adalah
orang-orang yang melaksanakan rencana strategis, managernent atas harus
memperhitungkan pertimbangan utama sepenuhnya ke rekening dalam mengembangkan
strategi korporasinya. Strategis SDM merupakan bagian integral dari
strategi tersebut.
Strategis SDM membahas masalah-masalah organisasi yang luas berkaitan dengan efektivitas organisasi dan kinerja, perubahan struktur dan budaya, sumber daya yang cocok untuk kebutuhan masa depan, pengembangan kemampuan khas, manajemen pengetahuan dan manajemen perubahan. Hal ini berkaitan dengan kedua memenuhi persyaratan modal manusia dan pengembangan kemampuan proses, yaitu, kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu secara efektif. Secara keseluruhan, ia akan mempertimbangkan orang isu utama yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh rencana strategis organisasi. Kepemimpinan eksekutif dan pembentukan pola positif dari hubungan kerja, yang strategis di setiap perusahaan.
Strategis SDM membahas masalah-masalah organisasi yang luas berkaitan dengan efektivitas organisasi dan kinerja, perubahan struktur dan budaya, sumber daya yang cocok untuk kebutuhan masa depan, pengembangan kemampuan khas, manajemen pengetahuan dan manajemen perubahan. Hal ini berkaitan dengan kedua memenuhi persyaratan modal manusia dan pengembangan kemampuan proses, yaitu, kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu secara efektif. Secara keseluruhan, ia akan mempertimbangkan orang isu utama yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh rencana strategis organisasi. Kepemimpinan eksekutif dan pembentukan pola positif dari hubungan kerja, yang strategis di setiap perusahaan.
Management strategis sumberdaya manusia menyediakan
‘mempersatukan beberapa bingkai kerja dalam satu papan, berdasar kontingensi
dan integerasi. Rasionalitas pada startegi sumber daya manusia adalah tentang
dirasakannya keunggulan dari memiliki persetujuaan dan pengertiaan basis untuk
pengembangan dan implementasi atau penerapan pendekatan kepada managemen
manusia yang mengambil kedalam konteks laporan perubahan dimana perusahaan
beroperasi dan di perekrutan untuk jangka panjangnya. Lengnick-Hall (1988,1990)
mengatakan bahwa rasional yang dimaksud dalam bisnis adalah konsep dari merai
keunggulan kompetitif melalui manajemen sumber daya manusia.
Storey’s(1989) berpendapat ‘soft strategic HRM’ aka menempatka
tekanan lebih besar kepada aspek hubungan manusia di dalam linkungan manajemen,
pengembangan stress yang berkelanjutan, komunikasi, keterlibatan, keamanan
pegawai, kualitas bekerja dan keseimbangan bekerja. ‘hard strategic HRM’ disisi
lain akan memperluas kepada memperoleh melalui dari investasi pada sumberdaya
manusia dan bunga dari kegiatan bisnis. Strategi sumber daya manusia harus
berusaha untuk meraih keseimbangan yang pantas diantara ‘hard’ dan ‘soft’
elemennya.
Semua organisasi harus selalu sadar dengan masing-masing
tanggung jawabnya kepada ligkungan sosial secara umum karena organisasi membuat
atau mengumpulkan sumber daya yang dimilikinya itu dari lingkungan sosialnya,
maka sudah seharusnya orgnaisasi member timbal balik kepada ligkungan sosial.
Konsep Strategy Human
Resource Management
1.
The
Resource-based view
Teori RBV memandang perusahaan
sebagai kumpulan sumber daya dan kemampuan (Penrose 1959; Wernerfelt, 1984).
Asumsi RBV yaitu bahwa perusahaan bersaing berdasarkan sumber daya dan
kemampuan. Perbedaan sumber daya dan kemampuan perusahaan dengan perusahaan
pesaing akan memberikan keuntungan kompetitif
Kemudian didalam konsep
pertama ini akan dijelaskan mengenai bagaimana sebuah keuntungan konpetitif itu
terjadi antara perusahan. Keuntungan
kompetitif tersebut muncul berawal dari adanya keaadan perusahaan-perusahaan
yang bersifat heterogen. Sehingga dengan adanya keadaan perusahaan yang
bersifat heterogen maka dini masing-masing perusahaan ingin berusaha untuk
terlihat lebih unggul dan menonnjol di banding perusahaan yang lain sehingga dampaknya
adalah timbul persaingan atau kompetisi dari masing perusahaan.
Dalam keuntungan
kompetitif ini sebuah perusahaan agar terlihat lebih unggul dan terpercaya
adalah kita harus memperkuat sumberdaya dan kapabilitas yang ada dalam
perusahaan, disini unsure-unsur yang harus diperkuat dalam sumber daya dan
kapasitas perusahaan adalah pengalaman, pengetahuan, penilaian, pengambilan
resiko dan kebijaksanaan perorangan.
Sehingga dengan
memperkuat unsur-unsur maka perusahaan akan menjadi perusahaan yang bernilai,
rare, imperfectly imitable and substitutable. Yang mana hal-hal tersebutlah
yang akan membuat keuntungan kompetitif bagi perusahaan
2.
Strategic Fit
Strategi ini dijelaskab
oleh Wright dam McMahlan (1992), strategi ini dibagi menjadi 2 dimensi, Yaitu dimensi Vertikal dan dimensi
Horizontal.
Didalam dimensi
vertical disini kita sebagai majanager menghubungkan praktek SDM yang
dikerjakan atau dilakukan dengan strategi yang sudah dibuat oleh perusahaan
itu. Sehingga dengan menghubungkan kita sebagai manajer bisa melihat apaka
praktek SDM yang sedang dikerjakan itu sesuai atau tidak dengan strategi yang
sudah dibuat oleh perusahaan.
Kemudian dimensi
horizontal dikatakan bahwa kita sebgai manajer harus memperkuat koordinasi kita
dengan berbagai prakterk SDM yang ada di perusahaan. Memeperkuat koordinasi
yang dimaksud disini adalah agar dalam praktek SDM ini tetep berjalan sesuai
arah yang ingin dicapai dalam perusahaan.
3.
Strategy Flexibility
Strategi flexibility
dapat diartikan sebagai kemampuan dalam merespon and menyesuaikan terhadap
lingkungan persaingan. Lingungan yang berbeda juga akan memepengaruhi sebuah
startegi flexibility. Wright and snell (1998) menjelaskan bahwa dalam teori
fleksibitas ini strategi yang digunakan dalam SDM itu tidak statis dan stuck pada
point saja. Namun disini strategi tersebut berkembang dan menyesuaikan dengan
kebutuhan dan lingkungan yang terus berkembang.
Bagaimanapun organisasi
mungkin mengembangkan sistem organik HRM yang menghasilkan kolam modal manusia
dengan orang – orang yang memiliki berbagai keterampilan yang dapat terlibat
dalam berbagai perilaku. Kebutuhan untuk mencapai flexibilitas sumber daya
dengan mengembangkan “ behavioural scripts “ dan mendorong karyawan untuk
menerapkan dalam situasi yang berbeda, mengingat jumlah peningkatan perilaku
diskresioner yang mungkin sesuai dalam peran yang berbeda-beda.
Namun disini hal yang
perlu di garis bahawahi adalah bahwa pada strategy ini dalam melakuka
perkembangan dan penyesuaian dengna lingkungan dan kebutuhan, Perusahaan harus
teteap berpedoaman atau berpatokan kepada visi dan misi perusahaan yang sudah
terbentuk diawal. Sehingga tujuan atau goal yang dinginkan perushaan tetap
tercapai walaupun keadaan lingkungan dan kebutuhannya selalu berkembang.
Universalistic perspective
Universalictic perspective merupakan pendekatan
yang sederhana dan cenderung pada “ best practice “ focus pada kebijakan
dalam SDM yang terpisahkan dihubungkan dengan kinerja
organizational.Pernyataan teoritical tentang perspective universalistic adalah
bahwa hubungan antara variable independent tertentu dengana variable dependent
bersifat universal dalam lintas populasi organisasi . dalam pengembangan
prediksi universalistic terhadap konsep MSM ( management sumber daya manusia )
strategic membutuhkan dua tahap : pertama, mengidentifikasi praktik-praktik MSM
strategic yang penting bagi organisasi tersebut. Kedua, argumentasi dan
penjelasan bahwa terdapat hubungan antara praktik – praktik MSM secara
individual terhadap kinerja organisasi yang harus disajikan.
Secara konseptual dan empirical, hubungan antara
praktik – praktik MSM dengan kinerja keseluruhan organisasi cukup banyak
dijelaskan dalam literature MSM. Secara lebih spesifik praktik – praktik
tersebut adalah peluang karir internal, system pelatihan formal, penilaian,
perencanaan pembagiaan keuntungan, derajat keamanan kerja, mekanisme
penyampaian pendapat, baik system pengaduan dan partisipasi dan terakhir
derajat pekerjaan dengan spesifikasi tightly atau narrowly.
Disini
kerugian dari bekerja dalam perspektif universal adalah sebagian besar
tidak peduli dengan efek interaksi antara variabel organisasi dan implicity
mengasumsikan bahwa pengaruh variabel jam yang aditif. seperti reduktif,
pandangan linear dari suatu sistem organisasi mengabaikan gagasan sumber daya
tingkat sistem. wawasan yang disediakan oleh perspektif universal sering
dianggap sebagai terbatas dan tidak ada perspektif universal yang signifikan
diproksikan dengan nilai juga anggapan negatif bahwa keunggulan kompetitif yang
berkelanjutan dapat dicapai melalui diferensiasi dalam strategi perusahaan
sumber daya dan kebijakan. praktek yang universal diterapkan akan memiliki efek yang
sama daripada yang berbeda perusahaan yang bersaing. perspektif
universal memiliki tendencyto memimpin "kesamaan" di seluruh
perusahaan.
ContingencyPerspective
Argumentasi yang dikontruksi dalam perspective ini adalah bahwa hubungan atau antar variable tidak bersifat hubungan linier sederhana seperti yang dikelompokkan kedalam teori-teori universalistic. Perspective ini menempatkan hubungan antara variable independent dan dependent yang relevan akan berbeda pada derajat yang berbeda pada variable contingency kritikal. Selanjutnya contingency perspective ini membutuhkan seorang peneliti yang akan memilih teori dan kemudian menspesifikasikan bagaimana praktik – praktik MSM secara individual akan berinteraksi dengan strategi perusahaan sehingga menghasilkan kinerja organisasi.
Argumentasi yang dikontruksi dalam perspective ini adalah bahwa hubungan atau antar variable tidak bersifat hubungan linier sederhana seperti yang dikelompokkan kedalam teori-teori universalistic. Perspective ini menempatkan hubungan antara variable independent dan dependent yang relevan akan berbeda pada derajat yang berbeda pada variable contingency kritikal. Selanjutnya contingency perspective ini membutuhkan seorang peneliti yang akan memilih teori dan kemudian menspesifikasikan bagaimana praktik – praktik MSM secara individual akan berinteraksi dengan strategi perusahaan sehingga menghasilkan kinerja organisasi.
Configurational Approach
Perspective configurational dalam management SDM strategic
dikaitkan dengan bagaimana pola aktivitas dan pengelompokkan yang terencana dan
majemuk mencapai tujuan organisasi. Dalam system tersebut, sebuah organisasi
harus mengembangkan sebuah system SDM yang mencapai kesesuaian horizontal dan
vertical. Kesesuaian horizontal mengacu pada konsistensi internal praktek atau
kebijakan SDM organisasi, dan kesesuaian vertical mengacu pada kongruensi
sistem SDM dengan karakteristik organisasi lainnya, seperti strategi
perusahaan. ada tiga prinsip utama yang mengarahkan perspective configurational
ini.Pertama, dapat percpective ini berasumsi pada prinsip holistik investigasi
untuk mengidentifikasi konfigurasi, atau pola unik factor-faktor , yang
diperkirakan secara maksimal akan efektif. Kedua, teori konfigurasional menyatukan
asumsi ekuifinalitas (ekuifinality) dengan perkiraan bahwa banyak konfigurasi
unik dari factor – factor yang relevan dapat menghasilkan kinerja maksimal.
Ketiga , konfigurasi ini diasumsikan menjadi tipe ideal yang merupakan elemen
terotis bukan fenomena yang secara empiris yang dapat diamati.
Menghubungkan
Perencanaaan dan Strategi SDM untuk Keunggulan Kompetitif
Banyak yang berpikir bahwa organisasi memutuskan
strategi dan kemudian melakukan perencanaan sdm untuk menyediakan karyawan
dalam jumlah dan jenis yang tepat. Bagaimanapun juga, hubungan tersebut
seharusnya lebih dalam lagi. Kemudian strategi bisnis mempengaruhi rencana SDM. Pertimbangan akan
masalah-masalah sumber daya manusia harus menjadi bagian dari masukan awal pada
proses perumusan strategi. Sebagai contoh, mungkin adalah penting untuk
mengenali kesempatan keunggulan kompetitif yang sesuai dengan karyawan yang ada
atau melakukan penilaian pada alternative strategis yang ada sekarang untuk
kemampuan yang dimiliki sumberdaya manusia organisasional. Profesional SDM
harus melakukan peninjauan lingkungan untuk mengetahui dengan tepat
keterampilan apa saja yang tersedia dan yang tidak.
Profesional SDM juga harus mampu memperkirakan waktu
yang dibutuhkan proses produksi agar dapat melakukan penyesuaiaan jika ada
kekurangan kelebihan tenaga kerja, karena SDM akan terlibat dalam menerapkan
strategi yang berhubungan dengan orang lain.
Sebagai
gambaran : sebuah bank besr ingin menjadi di antara yang berukuran 10
terbesar di AS. Strateginya meliputi pengembangan bisnis yang lebih global dan
meningkatkan layanan pelanggan. Analisis SDM menunjukan kekurangan mendasar
dalam angkatan kerja- mereka tidak mempunyai keterampilan dan pengetahuan yang
diperlukan untuk melaksanakan startegi tersebut. Dalam kasus ini serangkaian
program pelatihan dan pengembangan dirancang dan diterapkan untuk menutup kesenjangan tersebut.
Untuk mendeskripsikan hubungan antara strategi dan
SDM serta pengaruhnya kepada kinerja organisasi
sebelumnya kita kembali pada pengertian awal tentang strategi manajemen
sumber daya manusia yang menerangkan bahwa strategi manajemen sumber daya
manusia itu adalah basis untuk pengembangan dan implementasi atau penerapan
pendekatan kepada managemen manusia yang mengambil kedalam konteks laporan
perubahan dimana perusahaan beroperasi dan di perekrutan untuk jangka
panjangnya. Inipun berarti telah lahir di dalam benak kita bahwa strategi
manajemen sumber daya manusia itu adalah sebuah pola pikir, yang hanya datang
jika dia membuat aksi dan reaksi yang bisa di katakana sebagai strategi,
spesifik strategi sumber daya manusia atau strategi kebiasaan merupakan bagian
dari sumber daya manusia professional yang bekerja disepanjang garis manajer.
Strategi
manajemen sumber daya manusia dapat mempengaruhi kinerja organisasi tentu saja
karena seperti yang kita ketahui bahwa manusia merupakan sumber daya utama di
setiap perusahaan atau sebuah organisasi. Bisa dikatakan manusia merupakan
motor bagi organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi memiliki motor yang
sesuai dengan kebutuhan organisasi dan mampu berkontribusi positif bagi sebuah
organisasi sudah dapat dipastikan bahwa organisasi tersebut akanlah berhasil.
Pernyataan diatas bisa pula diartikan bahwa keunggulan kompetitif sebuah
organisasi akan tercapai dengan memastikan terlebih dahulu bahwa organisasi
memliki manusia dengan kualitas yang tinggi sebagai motor penggerak dari
organisasi tersebut.
Disinilah
peranan dari strategi manajemen sumber daya manusia berperan sangat penting.
Pengaplikasian strategi yang tepat pada organisasi dengan terlebih dahulu
mempertimbangkan tujuan organisasi apa yang ingin dicapai dengan berdasarkan
pada area-area kekuatan yang dimiliki sebuah organisasi. Kekuatan tersebut
adalah dasr untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Kekuatan tersebut bisa
juga disebut dengan kompetisi inti. Dimana kompetisi inti ini adalah sebuah
kapabilitas unik yang menciptakan nilai tinggi dan yang membedakan organisasi
dari pesaingnya. Selain itu juga, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh (Barney,
1991) ‘ keunggulan kompetitif yang bergantung pada efektif manajemen manusia
akan sangat sulit untuk ditiru.
Sudah
barang tentu penjabaran diatas menerangkan bahwa pengaplikasian strategi
manajemen sumber daya manusia yang tepat akan berpengaruh kepada ketersediaan
sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dan tujuan bisnis
organisasi yang mana pada tahap selanjutnya sumber daya manusia tersebut akan
bergerak sebagai motor organisasi untuk meningkatkan kinerja dari organisasi
tersebut.
No comments:
Post a Comment