1.
Job
Previews
Job previews adalah sebuah konsep dalam merekrut dan
menyelesksi para calon pekerja atau para pelamar dengan mengkomunikasikan dan
memberikan gambaran serta informasi mengenai job desk sebuah pekerjaan yang
akan dilaksanakan oleh para pelamar ketika mereka berhasil mendapatkan
pekerjaan tersebut. Dalam memberikan gambaran dan juga menyampaikan informasi
pekerjaan biasanya sebuah perusahaan menggunakan video tutorial, sharing
pengalaman dari para pekerja lama, dll.
Disini job previews sangat perlu di aplikasikan didalam proses perekrutan
calon karyawan di setiap perusahaan terutama ketika perusahaan ingin melakukan
rekuitmen terhadap pelamar atau calon pekerja yang pengalamannya sedikit ketika
bekerja dilapangan ditambahlagi ketika pekerjaan masih tidak jelas atau masih
blur dalam pelaksanaannya, sehingga dengan adanya job previews para karyawan
disini akan dijelaskan mengenai informasi positif dan informasi negative dan
juga mengenai resiko-resiko terkait dengan job desk pekerjaan diperusahaan
tersebut. Sehingga ketika para pelamar sudah tau dan jelas mengenai informasi-informasi
dan resiko mengenai pekerjaan yang akan mereka lamar mereka akan bisa
menginditifikasi dan memutuskan apakah mereka akan lanjut untuk menganbil
pekerjaan tersebut atau tidak.
Sehingga
diharapkan ketika para pekerja mulai bekerja dibulan-bulan pertama dia akan
melakaukan pekerjaan tersebut sesuai dengan apa yang dimau oleh perusahaan,
dengan segala konsekuensi dan resiko yang sudah dibicarakan dijob previews.
Harapan dari diaplikasikannya job previews disini adalah perusahaan akan mendapatkan pekerja yang
benar-benar bekerja sesuai dengan harapan yang mereka bayangkan sebelumnya maka
tidak akan timbul kekecewaan yang dapat menghabat kinerjanya dan kinerja
perusahaaan kemudian memperkecil keluarnya para pekerja baru dibulan-bulan
pertama bekerja dan juga mengurangi tingkat pergantian pekerja diperusahaan
tersbut. Disini dengan adanya job previews juga dapat mempercepat proses
sosialisasi pekerja dengan pekerjaan barunya kemudian juga disini juga dapat
mengurangi ketidaksiapan pekerja ketika menghadapi pekerjaan baru dilingkungan kerja barunya.
2.
Perbedaan Metode Tradisional Recuitment dengan Metode Modern
Recuitment
Metode Perekrutan
Metode perekrutan yang
dilakukan oleh perusahaan berkembang sesuai dengan majunya teknologi secara
global. Metode dibagi menjadi 2, yaitu metode tradisional dan metode modern.
A. Metode Perekrutan
Tradisional
Metode ini adalah metode
yang dilakukan perusahaan sejak dahulu sebelum kemunculan internet. Metode ini
berjalan efektif karena biasanya seseorang akan mencari informasi melalui koran
dan tv serta radio.
B. Metode Perekrutan Modern
Semakin berkembangnya
teknologi, maka cara perekrutan karyawanpun berkembang. Banyak perusahaan yang
menggunakan metode ini yang kita ketahui publikasi menggunakan internet. Tentu
saja, hal ini menimbulkan pro kontra. Berikut adalah keuntungan dan kerugian
yang akan di dapat dengan menggunakan metode ini.
i.
Kelebihan
1. Biaya yang murah.
2. Akses ke orang banyak
3. Kemampuan untuk
mentargetkan orang yang membutuhkan pekerjaan
4. Akses untuk pelamar
dengan latar belakang teknis dan komputasi
5. Respon yang cepat
6. Penggunaan yang mudah
7. Ekonomis
ii.
Kekurangan
1. Terlalu banyak berkas
pelamar yang diseleksi
2. Meningkatnya volume
pelamar
3. Sulitnya pelacakan
4. Fakta bahwa tidak semua
orang mengakses internet.
Bagaimanapun, pergeseran
dari tradisional ke online metode tidak sesederhana pertukaran chanel
perekrutan. Penggunaan perekrutan online bisa mempengaruhi proses perekrutan
yang lebih besar daripada hanya menggunakan advertising medium. Keberhasilan
pengaplikasian metode online bergantung pada 2 hal yaitu tipe organisasi yang
menggunakan metode tersebut dan dari cara setiap organisasi menjalankan metode
tersebut.
3. Job Aplicant Problems
Pertimbangan dari variable pelamar pekerjaan
harus memaikan peran sentral didalam bagaimana karyawan merencanakan proses
perekrutan, contohnya jika kartawan tertarik dalam menarik individu yang sedang
tidak dalam mencari pekerjaan. Kebiasaan yang dilakukan (dan kebiasaaan yang
dipelajari) metode perekrutan (job fair, sura kabar) bisa jadi tidak secara
particular efektif. Sama halnya, jika organisasi berharap untuk menaikkan
kesesuaian kerja perorangan atau organisasi dengan menyediakan informasi yang
realistic selama proses perekrutan, para pelamar itu sendiri penting untuk
menyadari (tanpa semacam wawasan, walaupun telah menerima informasi, pelamar
tidak diperkenalkan untuk mengevaluasi walaupun posisi telah digambarkan
sebagai kesesuaian yang bagus)
Sebagaimana telah
diberikan betapa pentingnya job aplikan variable pelamar, akan dilanjutkan kedalam
menyampaikan jumlah variable perekrutan berdasarkan pengingat dari penjabaran
diatas. Sehingga dipoint ini terdeteksi penelitian menemukan bahwa banyak
pelamar pekerjaan meiliki permasalahan sebagai berikut :
a)
Memiliki pemahaman yang tidak lengkap
b)
Tidak yakin dengan apa yang diinginkan dari
posisi tersebut
c)
Tidak memiliki sebuah self-insight (wawasan
diri) berkenaan dengan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan mereka.
d) Tidak dapat secara tepat
memprediksi bagaimana mereka akan bereaksi terhadap tuntutan posisi baru
4. Recuitment Methods
Secara garis besar, sumber tenaga kerja dapat
dibedakan dalam dua kelompok, yaitu dari sumber internal dan eksternal, maka
penarikan pegawai juga dapat dilakukan dengan dua metode, internal dan
eksternal
a.
Rekrutmen
Internal
Penarikan tenaga kerja yang berasal
dari sumber internal dilakukan dengan cara memberdayakan pegawai yang sudah
ada. Misalnya melalui rotasi, transfer, promosi, demosi, mutasi, kerja lembur,
atau memberi tugas baru sebagai tambahan di luar tugas lama yang tetap menjadi
kewajibannya. Sumber-sumber internal
meliputi karyawan yang ada sekarang yang dapat dicalonkan untuk dipromosikan,
dipindahtugaskan atau diretasi tugasnya, serta mantan karyawan yang bisa
dikaryakan dipanggil kembali (Schuer & Jakson,1996:232)
b.
Rekrutmen
Eksternal
Penarikan tenaga kerja dari sumber
eksternal dilakukan dengan merekrut pegawai dari luar perusahaan. Misalnya
melalui penerimaan lamaran secara terbuka (opened application), bekerja sama
dengan lembaga pendidikan yang dapat merekomendasikan lulusan terbaiknya,
memasang iklan lowongan kerja, menggunakan jasa biro atau agen tenaga kerja,
memanfaatkan anggota keluarga pegawai, rekomendasi dari serikat pekerja
dan/atau dari pegawai yang sudah ada.
Bertahun-tahun, penelitian telah
sangat focus pada efektivitas relative dari berbagai metode recruitment ( cara
pegawai dalam mencoba membuat individu mengetahui tetang lowongan pekerjaan).
Sebagai contoh, salah satu penelitian terbaru, Gannon (1971) menjelaskan
tentang hubungan antara beberapa metode dengan yang didengar oleh individu
tentang lowongan pekerjaan di sebuah bank dan pergantian secara sukarela. Dari
penemuannya diketahui bahwa individu yang disarankan oleh karyawan yang masih
bekerja atau individu yang melamar secara langsung (‘walkins’ ) tanpa mengetahui jika ada lowongan pekerjaan, cendrung
akan keluar dari pada individu yang menanggapi pada iklan pekerjaan atau yang
disarankan oleh agensi kepegawaian. Berdasarkan review mereka tentang 21 metode
rekruitmet, Zottoli dan Wanous(2000) menyimpulkan bahwa, konsisten dengan
penemuan Gannon, fungsi dari pengarahan dan pelamar langsung berhubungan dengan
lebih rendahnya pergantian sukarela, tetapi efek pergantian sukarela ini
cendrung menjadi kecil.
Belakangan ini, review tentang literature
recruitment focus kepada kelemahan di kebanyakan efek dari metode recruitment
yang dilakukan. Keterbatasan ini membuat sulit untuk menggambarkan kesimpulan
dari efek metode recruitment. Contohnya Rynes dan Cable menerangkan bahwa
kebanyakan pembelajaran focus kepada ‘post
hire outcomes’ dari pada ‘pre-hire outcomes’ yag mana sering menjadi daya tarik utama bagi
para pekerja. Keterbatasan lain dari metode recruitment ini adalah mereka
menggunakan sample dari kalangan pekerja dari pada para pelamar pekerjaan.
Masalah dari menggunakan kalangan pekerja dari sebuah organisasi seleksi system
memungkinkan mengurangi awal perbedaan berdasarkan perekrutan individu degan
metode berbeda.. contohnya, kalau karyawan rujukan menghasilkan pelamar
pekerjaan yang lebih tinggi, perbedaan ini dapat di eliminasi dengan system
seleksi yang menyaring keluar para individu yang kurang berkualitas. Awal
pelamar kerja yang berbeda memungkinkan tidak menjadi nyata jika sample yang
digunakan adalah pekerja yang sedang bekerja. Kelemahan dari beberapa penelitian adalah apa
yang diterapkan sebagai metode rekrutmen. Contohnya, beberapa penelitian telah
menerapkan mempekerjakan kembali mantan pegawai sebagai metode rekrutmen. pada
dasarnya studi tersebut mempunyai perbedaan luarbiasa diantara metode perekrutan dengan perbedaan dalam
jenis perekrutan individu. Kterbatasan keempat dari beberapa penelitian ini
adalah pengelompokan prekrutan individu melalui perbedaan metode secara
bersamaan. Contohnya, Mosser (2005) memaparkan perbedaan antara pendekatan
perekrutan internal (karyawaan rujukan,
memperkejakan kembali, hubungan internal, dan pengumuman ), pendekatan
external ( kerjasama dengan lembaga pendidikan, iklan pekerjaan, karyawan
agensi) dan walks-ins . strategy
tersebut dapat menghasilkan didalah pengelompokan individu bersam-sama yang
memungkinkan berbeda dalam variable penting ( agensi karyawan mungkin telah
melakukan penyeleksian terhadap kemampuan ketika tidak ada penyeleksian yang
diterapkan untuk mendapatkan respon di iklan lowongan kerja. Tambahan pembeda
dari sebagian kecil penelitian adalah mereka dimasukan data sebagai pelamar
pekerjaan dari beberapa pegawai ke dalam satu sample. Meskipun keterbatasan
lainnya telah disebutkan, itu sudah cukup untuk menyatakan bahwa sebagian besar
penelitian metode rekrutmen mendapat satu atau lebih dari keterbatasan yang
disebutkan.
Breaugh, Greising, Taggart, dan
Chen (2003) menjelaskan hbungan diantara lima metode rekrutmen ( rujukan
karyawaan, pelamar pekerjaan secara langsung, kerjasama universitas, pameran pekerjaan , dan iklan di
koran) dan pre-hire outcomes untuk pelamar kerja untuk pekerjaan informasi
teknologi. Tidak ada perbedaan yang ditemukan pada level pendidikan dan nilai
wawancara. Tidak secara mengejutkan, mereka yang direcrut dari kerjasama
universitas memiliki pengalaman lebih sedikit dari pada pelamar kerja dari
kelompok lain. Pola ini tetu diselenggarakan untuk mereka yang dipekerjakan
kembali. Kesimpulannya, walaupun karyawan rujukan dan pelamar secara langsung
tidak berbeda dari yang lainnya yang berda di kelompok laim pada 2 pengukuran
kualitas pelamar kerja, mereka tetap masih dipandang sebagai lebih pantas pada
penawaran pekerjaan.
Kesimpulan dari penelitian diatas,
keuntungan dari recruitment melalui karyawan rujukan dan menerima aplikasi yang
tidak jelas yang tampak. Namun, ketika salah satu juga mempertimbangkan hasil
penelitian metode rekrutmen lain yang telah dilakukan ( seperti melibatkan
karyawan, hanya yang dikelompokan bersama metode rekrutmennya), hasilnya menjadi kurang.
c.
Job
advertisement
Iklan pekerjaan telah menerima
pertimbangan perhatian dari penelitian perekrutan. Kebanyakan dari pengiklan
disediakan oleh para pakar yang berpelngalaman. Di dalam jumlah sebuah
informasi yang disampaikan pada sebuah iklan pekerjaan, penelitian meunjukan
bahwa iklan dengan informasi yang banyak mengahasilkan dalam sebuah lowongan
pekerjaan akan terlihat lebih atraktif dan lebih terpercaya dibandingkan dengan
iklan yang hanya mememuat sedikit infomarsi. Penelitian juga menujukan bahwa
iklan yang mempunya informasi yang lebih spasifik tentang posisi pekerjaan yang
ditawarkan, dan akan menghasilkan person
organizational fit yang lebih baik.
Disimpulkan bahwa, dalam penjelasan
penelitian dari iklan pekerjaan, nilai dari penelitian yang banyak dengan
pelamar yang melamar untuk pekerjaan seharusnya menjadi nyata.
d.
Internet
Recruiting via an employers web site
Berdasarkan popularitasnya sebagai
metode perekrutan (Cappelli, 2001) baru-baru ini penelitian telah memberikan
memetusukan untuk memperhatikan web sites organisasi. Secara tidak mengejutkan, efektivitas
relative dari web site para pegawai adalah secara tinggi bergantung pada
kemampuan karyawan dan reputasinya.
Walaupun, beberapa penelitian
terhadap penggunaan dari web site yang dikelola karyawan sebagai metode
perekrutan telah tersusun secara terkini, seperti yang disebutkan Ployhart
(2006). Dipaparkan creativitas yang organisasi lakukan dengan website mereka
(meambahkan video tentang pekerjaan aktualnya) penelitian lebih lanjut
sangatlah jelas dibutuhkan.
Detail ini adalah tergantung pada 2
faktor. Pertama, kebanyakan pegawai percaya bawa para karyawan rujukan
menwarkan keuntungan yang penting berdasarkan metode perekrutan lainnya dan
selanjutnya jarang terjadi kepada mereka pada penempatan dari peramalan kerja
mereka. Kedua, banyak perinsip utama dari metode perkrutan yang harus
ditambahkan.
5. Person Job Fit
Person job-fit adalah sebuah kesesuaian perseorangan
dengan pekerjaannya. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya pada job preverious, person job fit merupkan
implikasi selanjutnya. Ketika seorang pelamar pekerjaan diberikan pemaparan
tentag pekerjaan yang akan diisinya tindakan selanjutnya adalah penyesuaian
orang tersebut dengan pekerjaan yang ditawarkan. Ketika seorang pelamar
pekerjaan merasa cocok atau sesuai dengan pekerjaan yang ditawarkan akan
berimpas kepada kinerja individeu tersebut akan meningkat dan akan berakibat
kepada peningkatan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Jadi, bisa dikatan
personal job fit adalah sebuah keharusan di dalam proses sebuah perekrutan
karyawan.
No comments:
Post a Comment